Example floating
Example floating
Olahraga

Popda XV Jatim Jadi Ajang Berburu Talenta Sepak Takraw, PSTI Siapkan Pembinaan Berbasis Sport Science

8
×

Popda XV Jatim Jadi Ajang Berburu Talenta Sepak Takraw, PSTI Siapkan Pembinaan Berbasis Sport Science

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, – Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) XV Jawa Timur 2026 bukan sekadar arena perebutan medali. Kejuaraan ini menjadi kesempatan bagi Pengurus Provinsi Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Jawa Timur untuk menjaring bibit-bibit atlet potensial yang dipersiapkan menuju persaingan nasional hingga internasional.

Pertandingan sepak takraw Popda XV Jatim mulai berlangsung di Gedung Pemuda Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Senin (2/11). Sejumlah atlet pelajar dari kabupaten/kota menunjukkan kemampuan terbaiknya untuk membawa nama daerah masing-masing.

Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) Pengprov PSTI Jatim, Dr. Muhammad Muhyi, mengatakan, potensi atlet yang muncul dalam Popda harus mendapatkan perhatian serius. Jangan sampai kemampuan mereka berhenti setelah kompetisi selesai.

Menurutnya, diperlukan kesinambungan pembinaan dengan melibatkan guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di sekolah serta pelatih sepak takraw di daerah.

“Ini momen sangat baik untuk bersinergi mengantarkan sekaligus membina siswa-siswa yang memiliki talenta bagus di cabang sepak takraw. Pembinaan harus diteruskan, tidak hanya berhenti di ajang Popda, tetapi didorong sampai ke level nasional bahkan internasional seperti yang sudah diraih atlet-atlet Jatim di Asian Games,” ujar Muhyi di Gedung Pemuda Unesa, Senin (2/11).

Muhyi menilai, keberhasilan mencetak atlet berprestasi membutuhkan ekosistem pembinaan yang terintegrasi. Karena itu, PSTI Jatim mendorong kolaborasi antara sekolah, Dinas Pendidikan, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), serta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Kolaborasi tersebut diperlukan agar perkembangan atlet pelajar dapat dipantau sejak dini. Dengan begitu, atlet yang memiliki potensi besar bisa mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhan dan jenjang kemampuannya.

Muhyi juga mencontohkan pola pembinaan olahraga di Thailand yang memberikan perhatian khusus kepada siswa dengan bakat olahraga menonjol. Di negara tersebut, siswa bertalenta olahraga memperoleh tambahan sesi latihan setelah pukul 12.00, sedangkan siswa lainnya melanjutkan kegiatan pembelajaran reguler.

“Di Thailand, siswa yang memiliki talenta olahraga menonjol diberikan sesi khusus pengayaan cabang olahraga setelah pukul 12.00, sementara siswa lainnya mengikuti pelajaran reguler. Pendampingan seperti ini memerlukan regulasi dan desain kegiatan yang terkonsep antara sekolah, Dinas Pendidikan, Dispora, dan induk organisasi cabang olahraga,” jelas dosen Universitas PGRI Adi Buana Surabaya tersebut.

Lebih lanjut, Muhyi menyebut Popda sebagai momentum memetakan kekuatan atlet pelajar Jawa Timur. Setelah kompetisi berakhir, PSTI Jatim akan melihat atlet-atlet yang sudah siap masuk kategori elite maupun mereka yang masih membutuhkan pematangan teknik dan fisik.

Untuk mendukung proses tersebut, Binpres PSTI Jatim juga menyiapkan pendekatan sport science bagi para pelatih kabupaten/kota. Penerapan ilmu pengetahuan olahraga diharapkan membuat proses pembinaan lebih terukur, mulai dari pemantauan kemampuan fisik hingga peningkatan kualitas teknik atlet.

“Langkah konkret kami di Binpres PSTI adalah memberikan sentuhan dan pemanfaatan sport science kepada para pelatih PSTI kabupaten/kota se-Jatim. Hal ini sejalan dengan panduan sport science sepak takraw yang telah kami luncurkan sebelumnya. Harapannya, atlet hasil Popda dapat terpantau dan terbina secara terukur dan profesional,” pungkasnya.

Melalui Popda XV Jatim 2026, PSTI berharap muncul generasi baru pesepak takraw yang tidak hanya mampu bersaing di tingkat daerah, tetapi juga menjadi kekuatan Jawa Timur dalam kejuaraan nasional maupun internasional. @

About The Author