SURABAYA: Cedera bisa terjadi kapan saja, apalagi bagi para refugees atau pengungsi yang tinggal dalam kondisi serba terbatas. Melihat hal ini, tim dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) mengadakan kegiatan penyuluhan berjudul “Pencegahan Cedera dan Pertolongan Pertama pada Refugees”.
Acara ini berlangsung di salah satu tempat penampungan pengungsi yang dikelola oleh International Organization for Migration (IOM) pada tanggal 22-23 Juli 2025. Para peserta berasal dari berbagai negara seperti Pakistan, Afghanistan, dan Sudan. Dalam kegiatan tersebut, para pengungsi diajarkan cara mencegah cedera serta memberikan pertolongan pertama yang benar dan aman. Penyuluhan disampaikan oleh dr. Dayu Satriya Wibawa, Sp.B, seorang dokter dan dosen UNUSA. Beliau menyampaikan materi secara sederhana dan mudah dipahami.
“Kadang, hal kecil seperti tidak memakai sandal bisa menyebabkan luka. Kalau tidak tahu cara mengobatinya, bisa jadi infeksi. Di sinilah pentingnya pengetahuan pertolongan pertama,” kata dr. Dayu kepada peserta.
Dalam kegiatan ini, para peserta diajari menangani luka kecil, luka bakar, perdarahan, keseleo, patah tulang, pingsang, sesak nafas, kejang, serta langkah awal saat terjadi kecelakaan. Semua materi disampaikan dengan gambar dan alat peraga sederhana. Para pengungsi juga langsung mempraktikkan cara membalut luka atau menolong teman yang cedera. Selain dokter dan dosen, kegiatan ini juga diikuti oleh mahasiswa UNUSA. Mereka membantu menyampaikan materi dan mendampingi peserta saat praktik.
“Mahasiswa kami jadi belajar langsung di lapangan. Mereka bisa merasakan bahwa ilmu yang mereka pelajari bisa sangat bermanfaat untuk orang lain,” ujar salah satu dosen pendamping. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa UNUSA tak hanya fokus pada pendidikan di kelas, tapi juga ingin memberi manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk para refugees (pengungsi) yang tinggal jauh dari kampung halaman. “Kami ingin para pengungsi tahu bahwa mereka tidak sendiri. Mereka juga berhak mendapatkan pengetahuan untuk menjaga diri dan orang-orang yang mereka cintai,” tutup dr. Dayu.
Dengan kegiatan sederhana ini, UNUSA berharap semakin banyak pengungsi yang merasa aman, terlindungi, dan mampu menolong diri sendiri saat darurat. Ilmu kecil bisa punya dampak besar, terutama jika dibagikan dengan hati.













