KUDUS: Sukses Tarung Derajat Jatim memboyong tiga medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela Diri 2025, mendapat perhatian dari KONI Jatim. Induk olahraga prestasi itu menyebut Tarung Derajat ke depan bisa menjadi cabor potensial sebagai lumbung emas bagi Jatim.
Pada PON Bela Diri 2025, tarung derajat menyumbang enam medali bagi kontingen Jatim. Rinciannya, 3 emas, 1 perak dan 2 perunggu. Petarung Satriawan Drajat yang mendulang medali emas pertama untuk tim Tarung Derajat Jatim. Turun di kelas 49,1-52kg, dia sukses menghempaskan I Ketut Riyan Abadi dari Bali.
Emas kedua didapat dari perjuangan sengit Aryo Pandu Pamungkas di kelas 55,1-58kg setelah mengalahkan Ida Bagus Tantrawima dari Bali. Selanjutnya giliran petarung putri Vina Indah Permana dari kelas 58,1-62kg sukses mengatasi wakil Aceh, Sinta Rahma.

“Dari perkembangan di PON Aceh, POMNAS dan PON Bela Diri 2025, kami melihat potensi besar di tarung derajat. Mudah-mudahan ke depan bisa mengikuti jejak cabor andalan seperti gulat, wushu, dan jujitsu,” ujar Wakil Ketua KONI Jawa Timur yang juga Direktur Puslatda KONI Jatim, Irmantara Subagio.
Memang, secara grafik, tarung derajat Jatim menunjukkan perkembangan meningkat. Di PON Aceh 2024 mendulang 2 emas, 1 perak dan 2 perunggu. Kemdudian di Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) 2025 berhasil mendulang 4 medali emas. Prestasi sama diulang dengan mendulang 3 emas, 1 perak dan 2 perunggu di PON Bela Diri 2025
Menurut Ibag, sapaan akrab Irmantara Subagio, dari pelaksanaan PON Bela Diri 2025 yang telah menyelesaikan cabor taekwondo, judo, dan gulat, dan Tarung Derajat, KONI Jawa Timur sudah bisa melihat langkah yang harus ditempuh menuju PON Bela Diri 2027 dan PON 2028 di NTB-NTT.
“Memang waktunya tidak panjang, tetapi cukup bagi kami untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembinaan atlet. Hasil dari PON Bela Diri 2025 ini akan menjadi bahan evaluasi mendalam bagi semua cabor,” lanjutnya.

Selain itu, lanjut Ibag, KONI Jatim juga akan memberi perhatian lebih pada cabor yang masih minim kontribusi medali. Penanganan khusus akan dilakukan dengan membuka seleksi atlet potensial untuk pembinaan intensif menuju BK PON dan PON 2027.
“Cabor dengan partisipasi rendah akan kami carikan solusi terbaiknya. Kami sudah memiliki konsep untuk merekrut dan membina atlet melalui program khusus,” jelas Ibag.

Dari data yang ada, judo menjadi cabor paling buruk setelah gagal total pulang tanda medali apapun. Padahal, diperkuat 9 atlet. Sementara taekwondo dengan 2 atlet berhasil mendapatkan satu emas.
Sementara tarung berkekuatan 10 atlet mendulang 6 medali. Gulat sementara menjadi cabor paling moncer dengan merebut 4 emas sekaligus menjadi juara umum. Beberapa cabor bela diri lain, seperti silat, karate, sambo, kempo belum menyelesaikan pertandingan.

Ibag menambahkan bahwa program Puslatda (Pusat Latihan Daerah) juga akan diperkuat setelah evaluasi PON Bela Diri. Atlet yang meraih medali emas atau perak pada PON Bela Diri kali ini akan dipertimbangkan masuk ke dalam program tersebut.
“Target kami, awal Januari mendatang hasil evaluasi PON Bela Diri sudah dapat dimasukkan ke dalam SK Puslatda. Dengan begitu, persiapan menuju PON 2027 bisa lebih optimal,” pungkasnya. (tom)













