Example floating
Example floating
BeritaEkonomi

HIPMI Jatim Dorong UMKM Melek Pajak, Beni Yuanto: Jangan Sampai Jadi Penghambat Naik Kelas

18
×

HIPMI Jatim Dorong UMKM Melek Pajak, Beni Yuanto: Jangan Sampai Jadi Penghambat Naik Kelas

Sebarkan artikel ini

JEMBER – Urusan pajak masih menjadi salah satu hal yang membuat sebagian pelaku UMKM khawatir ketika mengembangkan usahanya. Padahal, pemahaman terhadap aturan perpajakan justru menjadi bagian penting bagi pengusaha yang ingin membawa bisnisnya naik kelas.

Pesan itu mengemuka dalam HIPMI Tax Day 2026 yang digelar di Kabupaten Jember, Kamis (8/10/2026). Kegiatan yang diikuti hampir 100 pengusaha tersebut menjadi ruang bagi anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Timur untuk memahami perkembangan regulasi perpajakan sekaligus mencari solusi atas persoalan yang dihadapi dunia usaha.

Peserta datang dari sejumlah BPC HIPMI di Jawa Timur, di antaranya Jember, Banyuwangi, Bondowoso, dan Kabupaten Probolinggo.

Kegiatan di Jember merupakan chapter kedua dari rangkaian HIPMI Tax Day 2026. Setelah Jember, agenda serupa akan berlanjut ke Malang untuk chapter ketiga dan kemudian ditutup pada chapter keempat.

Ketua HIPMI Jawa Timur, Ahmad Salim Assegaf, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dikemas sebagai forum edukasi agar anggota HIPMI tidak hanya mengetahui kewajiban pajak, tetapi juga memahami bagaimana mengelolanya dalam aktivitas bisnis.

“Acara ini kita buat untuk menyosialisasikan aturan dan ketentuan perpajakan. Tentunya kegiatan ini bisa membuat teman-teman anggota HIPMI, terutama anggota HIPMI Jawa Timur, lebih mengerti terkait masalah perpajakan,” ujar Ahmad.

Menurutnya, persoalan perpajakan tidak bisa dipisahkan dari perjalanan sebuah usaha. Ketika bisnis berkembang, administrasi dan kewajiban perpajakan juga akan semakin kompleks.

Karena itu, pengusaha sejak awal perlu memiliki pemahaman yang memadai.

“Teman-teman HIPMI Jawa Timur tentu berharap para UMKM bisa naik kelas. Salah satu poin yang harus betul-betul kita mengerti sebagai pengusaha untuk bisa naik kelas adalah dunia perpajakan,” katanya.

Ahmad juga ingin mengubah cara pandang pengusaha terhadap pajak. Menurut dia, pajak tidak seharusnya menjadi sesuatu yang ditakuti.

“Bagaimana teman-teman juga tidak takut terkait masalah perpajakan. Pengusaha di HIPMI harus aware terhadap masalah perpajakan,” tegasnya.

Pajak Jangan Jadi Beban Pengusaha

Pengurus HIPMI Jawa Timur bidang dua sekaligus perwakilan BYC Consulindo, Beni Yuanto, menambahkan bahwa pembahasan dalam HIPMI Tax Day 2026 tidak sebatas teori perpajakan.

Sejumlah aturan terbaru dan persoalan yang selama ini menjadi hambatan bagi UMKM turut dibahas.

“Materi hari ini terkait update peraturan dan isu-isu terkini tentang hambatan yang banyak dialami UMKM. Kita tidak bisa memungkiri bahwa anggota HIPMI masih banyak dari kalangan UMKM,” jelas Beni.

Menurutnya, perubahan sistem perpajakan membuat pelaku usaha harus terus mengikuti perkembangan. Apalagi, administrasi perpajakan kini semakin terdigitalisasi.

“DJP sudah makin canggih, jadi kita juga harus siap menghadapi sistem perpajakan yang baru,” ujarnya.

Beni menilai, pemahaman yang baik justru dapat membuat pengusaha lebih tenang dalam menjalankan kewajiban pajaknya. Pengusaha juga dapat menentukan langkah yang sesuai aturan sehingga kewajiban perpajakan tidak mengganggu keberlangsungan bisnis.

“Kita ingin meningkatkan awareness tentang peraturan baru sehingga teman-teman anggota BPC lebih paham dan lebih siap. Mereka juga memiliki opsi untuk melakukan pembayaran pajak secara efisien sehingga tidak menghambat bisnis,” katanya.

Bagi Beni, kepatuhan dan efisiensi bukan dua hal yang bertentangan. Pengusaha tetap harus memenuhi kewajibannya, namun di saat yang sama perlu memahami strategi perpajakan yang diperbolehkan oleh regulasi.

“Pajak adalah bagian dari kewajiban warga negara Indonesia, terutama pengusaha. Dengan adanya kegiatan ini, teman-teman menjadi lebih patuh, tetapi juga memiliki strategi dan opsi untuk melakukan efisiensi di bidang perpajakan,” tuturnya.

Berharap Ada Relaksasi

Di sisi lain, HIPMI Jawa Timur berharap pemerintah tetap memberikan ruang bagi dunia usaha untuk bertumbuh di tengah kondisi ekonomi global yang penuh tantangan.

Ahmad mengatakan, dunia usaha membutuhkan kebijakan yang mampu menjaga keberlangsungan bisnis, termasuk kemudahan dalam memahami dan menjalankan kewajiban perpajakan.

“Kami berharap dunia usaha yang kondisinya memang sedang menghadapi berbagai tantangan bisa tumbuh dan bergerak lagi. Kami juga berharap ke depan ada relaksasi terkait masalah perpajakan, apalagi kondisi global yang tidak menentu,” katanya.

Menurut Ahmad, kemudahan memperoleh informasi juga penting. Perubahan aturan yang cepat membutuhkan akses informasi yang mudah dipahami agar pelaku usaha tidak salah dalam menjalankan kewajibannya.

Karena itu, HIPMI Tax Day diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sosialisasi semata.

“Harapannya tata kelola perpajakan di perusahaan atau usaha masing-masing lebih tertata rapi pascaacara ini. Acara hari ini tidak berakhir hanya hari ini, tetapi kita bisa terus bertukar pikiran dan sharing untuk memperbaiki pengelolaan pajak di dunia usaha,” ujar Ahmad.

Ia menegaskan, kepatuhan pajak menjadi bagian dari komitmen HIPMI dalam membangun dunia usaha yang sehat dan profesional.

“HIPMI taat pajak. Buktinya kita membuat acara hari ini. Ini adalah salah satu bukti komitmen bahwa HIPMI Jawa Timur taat pajak,” tegasnya.

Rangkaian HIPMI Tax Day 2026 selanjutnya akan bergeser ke Malang sebelum memasuki chapter keempat.

Melalui kegiatan tersebut, HIPMI Jawa Timur ingin mendorong semakin banyak pengusaha muda memahami pajak sejak dini, sehingga kewajiban perpajakan tidak menjadi penghambat, melainkan bagian dari tata kelola bisnis yang sehat dan berkelanjutan. (Rak)

About The Author