Example floating
Example floating
BeritaHiburan

Bagi Takjil di Hari Musik Nasional, Sahabat Indonesia Satu Serukan Perdamaian Dunia Lewat Karya

104
×

Bagi Takjil di Hari Musik Nasional, Sahabat Indonesia Satu Serukan Perdamaian Dunia Lewat Karya

Sebarkan artikel ini

Surabaya – Memperingati Hari Musik nasional yang jatuh setiap 9 Maret, komunitas seni dan musik Sahabat Indonesia Satu menggelar kegiatan bagi takjil sekaligus engajak masyarakat melihat kembali peran musik sebagai bahasa universal yang mampu menyatukan perbedaan.

Musisi sekaligus pendiri komunitas Sahabat Indonesia Satu, Sastra Harijanto Tjondrokusumo, menilai musik memiliki kekuatan emosional yang mampu menjembatani berbagai latar belakang budaya, agama, bangsa dan negara.

Dalam berbagai konflik global, menurut mantan pelatih balap sepeda nasional ini, karya musik kerap menjadi sarana kampanye perdamaian, penggalangan solidaritas, hingga penguatan empati masyarakat dunia terhadap korban perang.


“Ditengah situasi konflik global, Lupakan kepentingan golongan. Kepentingan bangsa perlu di nomor satukan untuk perdamaian negara ini,” menurut Harry di sela pembagian takjil gratis.


Di Indonesia sendiri, sejumlah komunitas musik menggelar pertunjukan, diskusi, hingga kampanye digital yang mengangkat tema kemanusiaan dan solidaritas global. Pesan yang diusung tidak hanya soal hiburan, tetapi juga ajakan untuk menjaga perdamaian dan memperkuat rasa kemanusiaan.

Momentum Hari Musik Nasional diharapkan tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa musik memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran sosial. Melalui nada dan lirik, musik mampu menyuarakan harapan akan dunia yang lebih damai dan bersatu seperti yang disuarakan Sahabat Indonesia Satu dalam lagunya Bhinneka Tunggal Ika dan Indonesia Satu.

Peringatan Hari Musik Nasional sendiri berkaitan erat dengan tokoh besar musik Indonesia WR Supratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang lahir pada 9 Maret. Semangat nasionalisme yang diwariskan melalui karya tersebut dinilai tetap relevan, terutama dalam menyuarakan nilai persatuan dan kemanusiaan. (mad)

About The Author