SURABAYA — Pembangunan saluran U-Ditch berukuran 150/150 dengan cover gandar 10 ton di Jalan Kapas Krampung, Surabaya, kembali menjadi sorotan. Proyek yang dikerjakan PT Mustika Persada Indah dengan anggaran sekitar Rp1,7 miliar bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2026 melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Pemerintah Kota Surabaya itu diduga menyisakan sejumlah persoalan teknis di lapangan.
Pantauan di lokasi menunjukkan pelaksanaan pekerjaan masih menyisakan sejumlah hal yang perlu mendapat perhatian, khususnya terkait metode pemasangan, pekerjaan dasar saluran, urugan kembali, hingga kualitas sambungan antar-U-Ditch.
Saluran beton precast tersebut dibangun untuk menggantikan saluran lama yang dinilai sudah tidak mampu menampung debit air, terutama saat musim hujan.
Namun, kondisi pelaksanaan di lapangan memunculkan pertanyaan mengenai optimalisasi fungsi saluran setelah proyek rampung.Salah satu yang menjadi perhatian adalah pemasangan U-Ditch pada lubang galian yang masih terlihat tergenang air.
Tidak tampak proses pemompaan untuk mengeringkan dasar galian sebelum pemasangan. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi kerapatan, kemiringan, maupun elevasi pasangan U-Ditch.Selain itu, pekerjaan lantai kerja berupa rabatan beton trasram kedap air yang disebut tercantum dalam gambar detail perencanaan juga tidak terlihat pada sejumlah titik.
Elemen tersebut dinilai berkaitan dengan kestabilan pasangan, arah aliran, serta umur teknis saluran.Persoalan lain terlihat pada pekerjaan urugan kembali. Material yang digunakan disebut berupa tanah bekas galian yang masih berlumpur dan diduga tidak disertai pemadatan menggunakan material sirtu.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan amblesan pada sisi saluran, terutama apabila area tersebut nantinya menjadi bagian dari perkerasan jalan.Pemasangan U-Ditch juga terlihat mengikuti kontur jalan yang berbelok. Akibatnya, sejumlah sambungan antarbox tampak tidak lurus dan menyisakan celah. Celah tersebut diduga kemudian ditutup menggunakan pengecoran secara manual.
Metode tersebut menjadi perhatian karena karakteristik beton hasil pengecoran manual dapat berbeda dengan elemen beton precast.Apabila pengerjaannya tidak sesuai spesifikasi teknis, kondisi tersebut dikhawatirkan berpotensi menimbulkan rembesan maupun mempercepat kerusakan saluran.
Indikasi Pencurian Kabel TelkomDi tengah pelaksanaan proyek, muncul pula persoalan lain berupa indikasi pencurian kabel Telkom yang tertanam di area pekerjaan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai pengawasan keamanan di sekitar lokasi proyek. Meski demikian, dugaan adanya pembiaran oleh kontraktor maupun pihak pengawas belum dapat dipastikan dan masih membutuhkan klarifikasi dari pihak terkait.Kontraktor PT Mustika Persada Indah membantah keterlibatan dalam aktivitas yang melanggar hukum.
“Saya mendukung aksi pemberantasan pencurian kabel di Surabaya karena kami selaku kontraktor tidak pernah terlibat dengan hal-hal melanggar hukum,” ujar Waldy, kontraktor dari PT Mustika Persada Indah.
Hingga berita ini diterbitkan, PT Mustika Persada Indah belum memberikan penjelasan secara menyeluruh terkait sejumlah dugaan ketidaksesuaian teknis yang ditemukan di lapangan.
Warga Minta Kekurangan Segera DiperbaikiSalah seorang warga, Muzammil, berharap pembangunan saluran tersebut benar-benar mampu menyelesaikan persoalan banjir dan genangan yang selama ini dirasakan masyarakat.“Kalau proyek selesai tetapi tidak berfungsi, cepat rusak, dan justru menambah bahaya baru, tentu warga yang dirugikan.
Kami meminta pihak pelaksana dan pengawas segera memperbaiki kekurangan tersebut sebelum pekerjaan dilanjutkan,” ujar Muzammil.
Menurutnya, pekerjaan sebaiknya dihentikan sementara apabila memang ditemukan kekurangan teknis yang perlu diperbaiki.Perbaikan yang dimaksud antara lain membersihkan saluran dari puing dan material konstruksi, memastikan sambungan beton tertutup dengan baik, melakukan pemadatan tanah di sekitar struktur, serta memasang pagar pembatas dan rambu keselamatan yang memadai.
“Proyek ini sangat dibutuhkan warga untuk mengatasi masalah banjir. Namun, jika dibangun dengan kualitas yang tidak sesuai standar, uang negara dan waktu yang telah dikeluarkan bisa sia-sia, bahkan berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih besar,” tegasnya.
Selain itu, nama Trisna disebut-sebut sebagai pihak yang mengerjakan proyek di lapangan. Namun, saat dikonfirmasi, yang bersangkutan belum memberikan penjelasan resmi.Konfirmasi dan klarifikasi dari pihak-pihak terkait masih terbuka untuk melengkapi pemberitaan ini. Pras














