SURABAYA, 20 September 2026 — Selama lebih dari empat dekade, Yusuf Santriyono menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia olahraga, khususnya catur. Dari menjadi pengurus di tingkat kabupaten hingga terlibat dalam organisasi catur nasional, perjalanan itu membawanya menerima penghargaan sebagai Pembina Olahraga Berprestasi Jawa Timur pada puncak Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara puncak Haornas di Kampus C Universitas Airlangga, Surabaya, Minggu (20/9).Bagi Yusuf, penghargaan itu bukan tujuan akhir.
“Yang pertama kami sampaikan terima kasih kepada Dispora Provinsi Jawa Timur beserta tim juri, termasuk para wartawan yang sudah memberikan support kepada kami,” kata Yusuf.
Ia mengatakan penghargaan tersebut justru menjadi pengingat untuk terus melakukan pembinaan.
“Apa yang kami berikan selama ini akan kembali lagi kami berikan kepada masyarakat olahraga di Jawa Timur khususnya dan Indonesia pada umumnya,” ujarnya.
Yusuf mulai terlibat dalam dunia olahraga pada 1985. Empat tahun kemudian, ia memilih lebih serius menekuni catur.
Kariernya kemudian berkembang dari lapangan pertandingan ke dunia organisasi. Pada 2000, ia dipercaya menjadi wasit nasional dan 11 tahun kemudian memperoleh lisensi wasit internasional.
Di tingkat organisasi, Yusuf pernah menjabat Ketua Umum Pengkab Percasi Sidoarjo, Wakil Ketua I Pengprov Percasi Jawa Timur dan Ketua Bidang Hubungan Daerah PB Percasi.
Pengalaman tersebut membuatnya berada di berbagai sisi pembinaan olahraga, mulai dari pertandingan, organisasi hingga pengembangan atlet.
Saat ini, 38 Pengkab dan Pengkot Percasi di Jawa Timur masih aktif menjalankan program pembinaan.
“38 Pengkab Pengkot full semuanya dan alhamdulillah semuanya aktif, tidak ada yang tidak aktif,” kata Yusuf.
Hasil pembinaan itu terlihat dari prestasi kelompok junior. Jawa Timur, menurut Yusuf, pernah menjadi juara umum nasional empat kali berturut-turut.
Pada kejuaraan terakhir di Mamuju, Sulawesi Barat, Jawa Timur harus puas berada di posisi kedua. Namun, hasil tersebut tidak mengubah target mereka untuk kembali menjadi juara.
“Insyaallah tahun 2026 ini akan kita rebut kembali dari DKI Jakarta,” katanya.
Pembinaan di daerah juga menjadi salah satu jalur bagi atlet Jawa Timur menuju kompetisi internasional. Salah satunya adalah Nayaka Budi Dharma, yang saat ini memperkuat Indonesia dalam Olimpiade Catur di Samarkand, Uzbekistan.
Namun, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan dengan sumber daya yang memadai. Yusuf menyebut anggaran sebagai salah satu tantangan utama pembinaan olahraga.
“Kendala yang utama klasik, yaitu anggaran. Tetapi hal ini tentunya tidak menjadikan kita patah semangat,” ujarnya.
Keterbatasan anggaran, kata dia, membuat pengurus dan pembina terkadang harus menggunakan sumber daya pribadi agar program pembinaan tetap berjalan.
“Kalau seseorang ingin menjadi ketua cabor, baik di provinsi ataupun di kabupaten, harus punya duit. Kalau tidak punya duit, mohon maaf jangan mencalonkan menjadi ketua cabor,” kata Yusuf.
Meski demikian, ia mengatakan ada hal lain yang membuatnya tetap bertahan selama puluhan tahun: pertemuan dengan orang-orang yang tumbuh bersama olahraga.
Bagi Yusuf, bertemu atlet, orang tua atlet, wartawan dan pemangku kepentingan olahraga menjadi bagian yang membuat perjalanan panjang tersebut tetap bermakna.
“Alhamdulillah kita bisa berkumpul dengan teman-teman, bisa bersilaturahim dengan para atlet, wali atlet, para wartawan, kemudian para stakeholder yang ada di Jawa Timur ataupun nasional. Ini sukanya,” tuturnya.
Empat dekade setelah pertama kali masuk ke dunia olahraga, Yusuf masih melihat pembinaan sebagai pekerjaan yang belum selesai.
Penghargaan Haornas 2026 menjadi salah satu penanda perjalanan tersebut, sementara papan catur dan para atlet yang dibinanya masih menjadi bagian dari kesehariannya.@














